
Foto: dokumen pribadi, saat di daerah korban erupsi gunung kelud.
“Betapa indah menjadi benang di untaian tasbih; hanya tampak seintip-intip & sesekali; tapi tersebab dialah menyatunya butir-butir kemilau”.
-Salim A Fillah-
Begitulah, seharusnya menjadi mukmin; bermanfaat bagi hadirnya kebaikan di sekitar.
Hari ini, yang sedang kita nikmati, hanyalah sepenggal masa yang masa sebelumnya tak akan kembali dan apa yang terjadi esoknya masih misteri.
Sungguh tak ada yang bisa kita terka apa yang terjadi esok hari. Salah satu do’a yang masyhur adalah “wahai yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati-hati kami di dalam agamaMu”. Ini lah salah satu keindahan Islam. Ia selalu punya sisi antisipatif. Karena kemisterian hari esok, maka Islam membimbing kita untuk mengantisipasi apa yang terjadi esok hari, salah satunya dengan doa tersebut; teguhkan hati kami, dalam agamaMu ya Allah.
Ya,ajaran Islam memang antisipatif. Lihat saja, sholat; mencegah keji dan munkar. Puasa; menjadikan taqwa yang sebenarnya, yang bersebab kekuatan taqwanya ia akan mampu menghadapi segala rintang yang menghadang. Mampu melalui masa-masa yang keras dan mencekam. Karena bagi si taqwa sejati, ia tak ada ketakutan sama sekali kecuali takut kepada Allahu Robbi. Zakat; untuk saling memenuhi kebutuhan, yang berlapang rezeki siap membantu yang membutuhkan. Bahkan bukan hanya dalam soal harta, ajaran Islam mengatakan bahwa yang seiman; kepada Allah saja, ia bagai tubuh yang satu, jika ada yang terluka maka yang lain hadir segera untuk mengobatinya.
“Kami bangga”, ungkap Ustadz Hasan al-Banna dalam Majmu al-Rasail, “ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus kehormatan mereka (kaum mukminin), jika memang tebusan itu yang diperlukan”.
Hebat.
Memang begitu seharusnya, mukmin dan mukmin yang lain saling melengkapi. Bagi pejuang sejati, ia selalu bertanya pada dirinya; apa yang sudah kuberikan pada saudaraku sesama mukmin? Dan ternyata, itulah “wajah” sejatinya para pejuang; yang banyak bermanfaat bagi orang lain. Lihat saja pesan baginda Rasul;
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”
Sang mulia Nabi Muhammad SAW, ia selalu membagi apa yang ia punya saat ada orang lain memerlukannya. Bahkan saat ia sedang membutuhkannya sekalipun, tetap ia berikan kepada orang yang juga membutuhkan. Sedekah Rasul bagai semilir angin, ringan. Bahkan ringan sekali. Tak mau ia menunda untuk terus berbagi. Tak perlu menunggu cukup apalagi berlebih bila ingin bersedekah. Sedekahkan saja. Toh. Apa yang kita sedekahkan itulah yang menjadi milik kita. milik kita yang sesungguhnya, yang akan membersamai kita hingga hari pembalasan tiba.
Lalu, yang hanya kita nikmati, yang kita makan, ah esok pagi sudah kita buang lagi. Apakah kita tidak berfikir soal ini. Apa mau menumpuk harta lalu kita bebas menikmati, tapi sampai kapan kita mampu menikmati? Ataukah mau berbagi dan itu yang akan mengabadi untuk menemani hingga menghadap sang Rabbi?
No comments:
Post a Comment