Bang, izinkan saya bertanya
satu hal mengenai kegiatan tulis-menulis. Saya adalah seorang mahasiswa
semester II jurusan Sastra Indonesia. Saya bercita-cita menjadi seorang
NOVELIS dengan karya-karya novel roman yang diterbitkan di seluruh belahan
negara di dunia. Yang jadi pertanyaan saya adalah:- Apakah saya harus menulis menggunakan pena dan selembar kertas, atau sebuah laptop dengan Microsoft Word?
- Lebih cepat menggunakan media apa supaya saya cepat menguasai kegiatan menulis novel?
- Banyak orang yang beranggapan bahwa menulis dengan tangan akan membuat si penulis cepat belajar. Apakah itu benar?
Pengirim: Ari Setyawan (20 tahun,
Yogyakarta)
Jawaban:
Konsultasi Penulisan ini adalah
hasil kerjasama antara PenulisLepas.com dengan Sekolah-Menulis Online dan
DapurBuku.com
Halo Ari, salam kenal dari saya, dan
salut untuk mimpi Anda yang luar biasa!
Seseorang yang ingin sukses memang
harus punya mimpi besar, dan yakin bahwa mimpinya itu akan terwujud suatu saat
kelak. Namun agar mimpi menjadi penulis kelas dunia tersebut benar-benar
tercapai, tentu saja Ari harus membarenginya dengan perjuangan, pengorbanan,
keuletan dalam bekerja, dan tak kenal menyerah. Tanpa itu semua, mustahil mimpi
besar tersebut akan tercapai.
Semoga sukses ya!
Mengenai ketiga pertanyaan Ari,
sebenarnya semua itu sangat relatif, karena masing-masing orang punya
preferensi yang berbeda-beda. Ada penulis yang merasa kurang nyaman bila
mengetik naskah dengan laptop. Dia lebih suka pakai PC. Ada pula penulis yang
lebih suka menulis naskah dengan mesin tik manual. Bahkan ada teman saya sesama
penulis yang hingga hari ini masih lebih suka menulis cerpen dengan tulisan
tangan.
Jadi, saya tak akan menjawab
pertanyaan Ari satu-persatu. Sebab itu semua tergantung diri kita
masing-masing. Tiap penulis punya kecenderungan dan preferensi yang
berbeda-beda dalam menulis.
Saran saya, sebaiknya Ari gunakan
saja sarana yang paling Ari sukai, yang menurut Ari paling enak dipakai untuk
menulis naskah.
“Bagaimana cara mengetahui sarana
mana yang pas dengan saya?”
Tentu saja dengan mencoba. Cobalah
semua sarana yang ada, maka nanti Ari akan tahu sendiri sarana mana yang paling
pas bagi Anda.
Jangan hiraukan pendapat teman-teman
lain yang berkata (misalnya), “Menulis novel dengan tulisan tangan itu lebih
baik dan hasilnya lebih maksimal”.
Pendapat teman yang seperti ini
tentu saja benar. Tapi itu benar UNTUK DIRINYA SENDIRI. Untuk orang lain belum
tentu.
Satu hal yang perlu kita sadari:
Hal yang membuat kita merasa nyaman dengan “alat tulis” tertentu adalah KEBIASAAN. Bila ada orang yang sejak dulu terbiasa menulis cerpen dengan tulisan tangan misalnya, dan ketika ada mesin tik bahkan komputer dia merasa enggan mengubah kebiasaan, maka sampai kapanpun dia akan tetap merasa lebih nyaman menulis cerpen dengan tulisan tangan.
Hal yang membuat kita merasa nyaman dengan “alat tulis” tertentu adalah KEBIASAAN. Bila ada orang yang sejak dulu terbiasa menulis cerpen dengan tulisan tangan misalnya, dan ketika ada mesin tik bahkan komputer dia merasa enggan mengubah kebiasaan, maka sampai kapanpun dia akan tetap merasa lebih nyaman menulis cerpen dengan tulisan tangan.
Coba Ari bayangkan bila ada orang
yang terbiasa menulis dengan mesin tik manual, lalu suatu saat nanti mesin tik
manual sudah musnah dari muka bumi ini, tak ada satu pun yang tersisa. Apa yang
akan terjadi dengan orang ini? Bila dia ngotot bertahan dengan kebiasaannya,
maka dapat dipastikan bahwa dia akan berhenti menulis.
Padahal dia mungkin punya mimpi
besar seperti Ari, yakni menjadi penulis kelas dunia. Tentu sangat disayangkan,
bukan? Mimpi dia kandas hanya gara-gara dia tidak bersedia mengubah sebuah
kebiasaan. Padahal ini merupakan sesuatu yang sangat “sepele” dan sangat mudah
dilakukan, asalkan dia mau berusaha.
Dulu, saya pun awalnya menulis
dengan mesin tik manual. Lalu tiba-tiba muncul komputer. Terus terang, saat itu
saya pun sempat berpikir bahwa menulis dengan mesin tik manual jauh lebih bagus
hasilnya. Print out dari komputer (apalagi printer saat itu masih
berbentuk dot matrix yang hasilnya memang kurang bagus) sering membuat
saya kecewa karena “tidak sesuai harapan”.
Tapi saya kemudian sadar bahwa kita
harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Singkat cerita, saya kini
alhamdulillah bisa merasa nyaman mengetik dengan laptop.
Dan khusus mengenai pertanyaan nomor
2:
Kemampuan kita untuk menguasai penulisan novel atau tulisan jenis apapun, tak ada kaitannya dengan sarana yang kita gunakan. Agar menjadi seorang penulis novel yang hebat, yang Ari butuhkan adalah banyak berlatih menulis, banyak belajar dari novel-novel yang sudah ada, dan pelajari ilmunya.
Kemampuan kita untuk menguasai penulisan novel atau tulisan jenis apapun, tak ada kaitannya dengan sarana yang kita gunakan. Agar menjadi seorang penulis novel yang hebat, yang Ari butuhkan adalah banyak berlatih menulis, banyak belajar dari novel-novel yang sudah ada, dan pelajari ilmunya.
Semoga penjelasan ini membantu, ya.
Salam sukses!
No comments:
Post a Comment